Demokrasi Bukan Sekadar Kritik, Generasi Muda Diajak Berpikir Kritis dan Kawal Pembangunan Bangsa
- Redaksi
- Minggu, 18 Oktober 2026 23:19
- 68 Lihat
- Nasional
JAKARTA, Kebebasan berpendapat merupakan pilar demokrasi. Namun, menyampaikan aspirasi tidak cukup hanya dengan suara lantang, melainkan harus disertai data, nalar kritis, dan solusi nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam podcast “Bersama Menjaga Bangsa” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) di Studio Assa Podcast, Salemba, Jakarta Pusat, pada 9 Oktober 2026.
Diskusi menghadirkan Martin Khisna, Wakil Sekretaris Jenderal Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan 66, serta Fransiskus X. Gian Tue Mali, S.I.Kom., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (UKI) sekaligus Pembina Pusat Studi Papua FISIPOL UKI. Diskusi dipandu Simon Batmomolin, Sekretaris Fungsi Ekonomi Kreatif PP GMKI.
Dalam pembahasan tersebut, para narasumber menyoroti tantangan generasi muda dalam menyikapi dinamika politik, kebijakan pemerintah, serta derasnya arus informasi di media sosial.
Kritik Harus Berbasis Fakta
Kritik terhadap kebijakan publik dinilai penting sebagai bagian dari pengawasan demokrasi. Namun, kritik perlu disampaikan berdasarkan fakta, pemahaman yang utuh, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berbagai program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, dan Sekolah Rakyat, perlu dikawal melalui evaluasi objektif agar pelaksanaannya tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kebebasan menyampaikan aspirasi, termasuk melalui demonstrasi, juga merupakan hak demokratis yang harus dihormati. Meski demikian, setiap gerakan perlu memiliki tujuan yang jelas, memperhatikan ketentuan hukum, dan mengedepankan kepentingan masyarakat.
Literasi Digital Jadi Kunci
Di tengah maraknya informasi di media sosial, generasi muda dituntut tidak mudah terpengaruh opini yang belum terverifikasi. Kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi.
Semangat kritis juga perlu diimbangi kontribusi nyata melalui pendidikan, inovasi, pemberdayaan masyarakat, serta pengawasan kebijakan secara konstruktif.
Pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi tanpa kritik, melainkan demokrasi yang mampu mengelola perbedaan melalui dialog, menghadirkan solusi, dan menjaga persatuan bangsa.
Generasi muda diharapkan tidak hanya berani bersuara, tetapi juga mampu berpikir jernih, menguji fakta, dan berkontribusi nyata dalam mengawal pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Ricci Kapoor